Menyikapi Keputusan Orang Lain

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always.

Seperempat abad.

Tiba-tiba kepikiran hal yang sebenernya udah gue tau dari lama cuma gak pernah nyempetin untuk ngerenungin sih. Biasa, denial aja karna ngerasa belom perlu. Tapi sekarang hati udah mulai legowo kok untuk mikirnya.

Kalo ditanya pengen apa enggak punya anak? Jawaban gue pasti pengen. Pengen banget. Tapi kalo ditanya siap apa enggaknya, pasti jawabannya belum. Iya, belum siap :')

Mungkin gak sih, sebenarnya yang menjadikan ibu bapak kita orang tua itu adalah diri kita sendiri sebagai anak? Maksudnya, gak ada ilmu pasti tentang bagaimana menjadi orang tua yang paling benar. Tolong dicatat, paling benar loh ya, bukan paling baik. Karna menjadi baik itu mutlak diperlukan sifatnya. Apalagi untuk menjalani hidup sebagai khalifah di bumi ini. Ciah.

Tiap orang punya gaya-nya masing-masing saat menghadapi anaknya, dan disitu lah proses pembelajaran itu terjadi. Makanya gak ada konsep 'benar' atau 'salah' dengan persentase 100% persis. Gak ada pakem khusus atau jaminan untuk contoh kasus dikeluarga A jalan keluarnya bisa dipakai juga dikeluarga B. Semuanya learning by doing memakai logika dan intuisi yang kata orang bakal timbul sendiri kalo kita jadi orang tua nanti. Ya, tapi bukan berarti ngegampangin sih, ilmu parenting pasti lah harus ditambah terus ya dong.

Berat ya jadi orang tua.

Berat, apalagi kalo ada orang luar yang gak tau apa-apa tiba-tiba kasih komentar yang sifatnya langsung judgement tanpa digali dulu alasan dibalik kenapa keputusan tersebut diambil.

Kayak, perdebatan dari melahirkan normal atau caesar, menyusui asi atau susu formula, ibu bekerja atau dirumah seharusnya juga gak perlu ada. Tiap orang tua pasti lah pingin yang terbaik buat anaknya, tapi kalo keadaan memaksa kita untuk gak bisa kearah sana, apa perlu terlalu ikut campur dengan kasih komentar negatif yang gak membangun semangat sama sekali? Kalo disuruh pilih ya pasti semua orang tua, ibu lebih tepatnya akan memilih melahirkan normal, bisa nyusuin pake asi, dan dirumah terus sama anaknya. Tapi jangan lupa ada faktor lain, entah takdir atau pun kebutuhan. Banyak pertimbangannya. Demi A, B, C maka terpaksa harus demikian. Toh ibu yang melahirkan caesar tetep ngerasa sakit, atau ibu yang bekerja pasti lah juga berat setengah mati perasaannya karna udah jauh dari anaknya. Tapi apakah itu mengaburkan status seseorang menjadi orang tua? Enggak kan? :)

Tapi sayangnya sekarang ini banyak orang yang gak bisa nahan mulutnya buat gak komentar yang bisa menyinggung keputusan yang diambil orang lain, dalam hal ini mendidik anaknya. Kayak yang pernah gue utarain dipostingan sebelumnya, tiap orang berdiri diatas perspektifnya masing-masing, tanpa melupakan bahwa dia hidup sebagai makhluk sosial.

Artinya, tiap orang berhak membuat keputusan untuk dirinya sendiri, atau dalam lingkup keluarganya. Kasih masukan, saran, kritik sih sah-sah aja asalkan disampaikan dengan cara yang baik, positif, dan membangun, tanpa memaksa atau bahkan menghakimi. Jangan sampe kita merasa paling benar dgn pemikiran yang kita punya kemudian menilai rendah perspektif orang lain yang berbeda dari kita. Gak ada salahnya memiliki sikap hashtag r-e-s-p-e-c-t.

**Btw ini self reminder juga kok buat gue :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuan Hidup Masing-Masing Orang Berbeda

🖤