Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Tacenda

Gambar
Ada hari dimana sebuah perihal, dapat menjadi alasan kuat u ntuk bersedih Hari dimana aku merasa tersesat, telah menjalani kehidupan yang salah karna melawan yang sudah digariskan Ingin sekali berbagi kegusaran ini hanya untuk mengurangi derai bilur Tapi siapa? Mulai dari mana? Seandainya bisa kuceritakan Percayalah, aku ingin Tetapi tidak bisa Tidak pernah bisa Dan tidak ada yang bisa Hingga akhirnya kawan lama datang memelukku pada angin, pada sinar, pada harum tanah, pada keadaan Dan diantara semuanya, yang paling ku suka adalah menyimpannya sendiri Sendiri, semuanya tidak butuh arahan Sendiri, semuanya tidak ada gelisah Sendiri, aku  merasa baik-baik saja Walau semu Namun, yang paling menyesakkan adalah, ketika hari berganti menjadi gelap Membawa serta ingatan tersebut untuk hadir dalam keadaan aku yang sedang kacau-kacaunya Saat itu aku sadar Aku juga manusia Aku tidak selalu kuat Dan aku butuh, butuh, butuh didengarkan Hanya...

Tentang Proses

Dulu, gue pernah jadi orang yang sedikit antipati sama orang-orang yang terlalu fanatik akan agama (walau bahkan agama yang dimaksud juga agama yang gue anut). Dulu, gue termasuk orang yang suka membuat lelucon tentang wanita muslimah yang berpakaian sesuai syariat Islam. Hmm. Ya, dulu. Sampai akhirnya temen terbaik yang gue punya memutuskan hijrah dan menjadi salah satu dari golongan yang dulu (sempat) gue perolok. Dilema. Ya, pasti. Bukan karena malu, tapi lebih ke perasaan "apa masih pantes orang kaya gue jadi temen dia?". Keputusan dia berhijrah sedikit-banyak berpengaruh juga ke diri gue. Banyak pemikiran yang akhirnya harus gue akuin bahwa, ternyata ini bukan tentang mereka, ini tentang gue yang kesasar terlalu jauh dan gak tau apa-apa tentang agama (beserta pemahamannya) yang gue anut. Mungkin ini yang namanya hidayah bisa dateng dari mana aja. Kebetulan untuk gue, datengnya dari temen sendiri. Alhamdulillah, saat sang hidayah menyapa pintunya nggak tertutup. Wal...

Kata Joko Pinurbo

Baru aja mendapati bacaan puisi yang isinya bagus banget menurut gue. Karya Joko Pinurbo (2002). Mampir Tadi aku mampir ke tubuhmu tapi tubuhmu sedang sepi dan aku tak berani mengetuk pintunya. Jendela di luka lambungmu masih terbuka dan aku tidak berani melongoknya. Postingan kali ini cuma mau ngutip puisi itu aja. Iya, dikutip aja. Pembaca bebas memaknai hasil karyanya, termasuk gue. Tapi kali ini mau disimpen sendiri aja hipotesis maknanya. Pokoknya puisinya bagus.